Sensus Ekonomi 2026: Cerita, Canda, dan Tawa di Balik Data

Jakarta, Memories Millenaires Indonesia

Siti Masruroh sibuk menekan layar telepon pintarnya. Kedua ibu jarinya bergerak cepat dari satu angka ke angka lain.

Siti tampak beberapa kali memastikan kembali jawaban yang baru saja disampaikan oleh wanita di hadapannya. Di layar ponsel itu, perlahan muncul deretan angka yang kelak menjadi bagian dari potret besar perekonomian Indonesia.

Di depan Siti ada seorang wanita berkerudung merah muda. Sebut saja namanya Ayu. Jarak antara mereka berdua tak sampai satu meter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah sekitar 10 menit Ayu duduk di hadapan Siti. Ia menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan petugas Sensus Ekonomi 2026 tersebut. Sesekali, jawaban Ayu diselipi celetukan yang membuat suasana pendataan menjadi jauh dari kesan kaku.

“Ibu, ada usahanya?”

“Iya.”

“Pendapatan ibu per hari? Pendapatan kotor?”

“Rp130 ribu. Bikinnya cuma dikit. Kita banyakin, enggak ada yang beli. Pembelinya enggak ada. Buang-buang modal. Jadi kita bikin dikit-dikit aja. Yang penting lancar gitu.”

Ayu terlihat berkelakar. Siti dan seorang rekannya pun tertawa kecil.

Siang itu, panas Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, terasa menyengat. Matahari seperti tidak memberi ruang bagi warga untuk berlama-lama berada di luar rumah. Namun, suasana di rumah Ayu justru terasa lebih cair.

Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir.

“Kalau untuk modalnya itu 100 persen Ibu modal pribadi atau ada pinjam koperasi, pinjam ke KUR, atau yang lainnya gitu?

“Enggak ada.”

“100 persen modal sendiri?”

“Iya.”

Siti kembali mencatat jawaban tersebut.

Tak lama kemudian, Ayu menambahkan satu kalimat yang membuat suasana kembali pecah.

“Modal dari bapak (suaminya Ayu) sih dikasih.”

Senyum lebar langsung terlihat di wajah Siti.

Percakapan sederhana itu menjadi satu dari sekian banyak momen yang ditemui petugas sensus ketika turun langsung ke lapangan. Di balik angka-angka yang dikumpulkan, ada cerita, canda, hingga tawa warga yang ikut mengiringi proses pendataan.

Bagi Siti, Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya soal memasukkan jawaban ke dalam formulir digital. Setiap rumah yang didatangi membawa cerita berbeda.

Ada warga yang menjawab singkat. Ada pula yang justru membuka percakapan lebih panjang.

“Kalau kita masuk ke rumah setiap warga itu, kalau di sini kebanyakan nenek-nenek yang sudah tidak bekerja. Jadi kita mendengarkan curhat,” ujar Siti ketika ditemui Memories MillenairesIndonesia.com di lokasi, Kamis (23/7).

Menurut dia, waktu yang paling banyak tersita bukan untuk mengisi data.

“Lamanya bukan pengisian datanya. Curhatnya, ceritanya, sedihnya. Itulah pokoknya banyak. Kalau di perkampungan lebih seperti itu. Orangnya lebih

welcome

, lebih terbuka,” ujarnya.

Di tengah percakapan ringan semacam itulah Siti menjalankan tugasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Utara Theresia Parwati menjelaskan Sensus Ekonomi merupakan pendataan yang dilakukan untuk memetakan kondisi perekonomian Indonesia secara menyeluruh.

“Tujuannya untuk melakukan pemetaan kondisi ekonomi seperti apa sekarang dan juga membuat rencana-rencana ke depan sebaiknya apa yang harus dilakukan, intervensi ekonomi seperti apa yang bisa dilakukan,” ujar Theresia ketika ditemui Memories MillenairesIndonesia.com di kantornya.

Sensus Ekonomi digelar setiap 10 tahun sekali. Pelaksanaan pada tahun ini menjadi penting karena kondisi perekonomian telah mengalami banyak perubahan sejak sensus sebelumnya pada 2016. Salah satu perubahan terbesar datang dari pandemi Covid-19.

Pandemi mempercepat penggunaan teknologi digital di berbagai sektor. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya harus dilakukan secara langsung dan memiliki tempat usaha fisik, kini bisa berlangsung dari balik layar telepon pintar.

Perubahan itu terlihat dari banyaknya usaha yang memanfaatkan marketplace, media sosial, hingga aplikasi perpesanan seperti WhatsApp untuk berjualan.

Theresia mencontohkan pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Pagi Mangga Dua dan ITC. Sejumlah toko fisik di pusat perbelanjaan tersebut memang tidak lagi beroperasi. Namun, kondisi itu tidak serta-merta berarti kegiatan ekonomi berhenti.

“Kalau dulu benar-benar murni semua usaha hanya dilakukan kalau ada fisiknya, sekarang orang tidak kelihatan fisiknya, tetapi sudah melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi,” ujar Theresia.

Ada usaha berbasis

affiliate

. Ada penjualan melalui marketplace. Ada pula pelaku usaha yang memanfaatkan Instagram hingga TikTok untuk menawarkan barang dan jasa.

Seluruh aktivitas itu menjadi bagian dari perekonomian yang ingin dipotret melalui Sensus Ekonomi 2026.

Pendataan tersebut mencakup berbagai skala usaha. Mulai dari keluarga yang menjalankan usaha kecil-kecilan, UMKM, perusahaan menengah, hingga perusahaan besar yang menjadi penggerak perekonomian nasional.

Di Jakarta Utara, cakupan pendataan dilakukan di seluruh wilayah. Theresia mengatakan petugas melakukan pendataan ke seluruh RT dan RW yang menjadi wilayah kerja BPS Jakarta Utara.

Di salah satu kawasan padat penduduk, Siti bertugas mendata sekitar 700 rumah. Untuk dapat masuk ke wilayah tersebut, prosesnya pun tidak dilakukan sembarangan. Petugas terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus RW. Setelah itu, informasi diteruskan kepada pengurus RT.

Data mengenai petugas, wilayah tugas, hingga identitas petugas kemudian disebarkan kepada warga. Setelah koordinasi selesai, Siti dan petugas lainnya mulai mendatangi rumah-rumah warga.

Bersambung ke halaman berikutnya…

Tantangan Petugas di Lapangan

Namun, tidak semua proses berjalan mulus.

Saat pengumpulan data di perumahan komplek, penolakan sering datang dengan alasan yang beragam. Ada warga yang tidak memiliki waktu.

Ada pula yang meminta petugas datang pada waktu lain. Bahkan, setelah koordinasi dilakukan dengan pengurus RW dan petugas keamanan, tetap ada warga yang tidak bersedia didata.

Situasi serupa juga ditemui di pusat-pusat perbelanjaan.

Theresia mengatakan sebagian pegawai toko enggan memberikan data karena merasa tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan petugas. Dalam kondisi seperti itu, BPS tidak memaksakan pendataan.

BPS Jakarta Utara juga berkoordinasi dengan pengelola mal untuk membantu proses pendataan. Informasi mengenai jadwal kedatangan petugas disebarkan kepada para pemilik toko, sehingga mereka mengetahui adanya Sensus Ekonomi 2026.

Pemilik usaha pun diberikan beberapa pilihan. Mereka dapat didata langsung oleh petugas, mengisi kuesioner, atau mengakses tautan yang telah disiapkan.

Ternyata, sebagian besar pelaku usaha yang ditemui di beberapa pusat perbelanjaan justru memilih untuk didatangi langsung. Contohnya di Mall of Indonesia. Saya berkesempatan mengikuti dua petugas dan dua pengawas mendatangi salah satu toko fesyen.

Setelah menunjukkan surat tugas dan identitas, petugas langsung berbincang dengan karyawan toko. Pertanyaannya beragam.

Mulai dari nama usaha, tahun berdiri, nomor telepon, jumlah karyawan, hingga estimasi omzet harian. Petugas juga menanyakan apakah usaha tersebut memiliki aktivitas penjualan secara daring ataut tidak.

Prosesnya berjalan santai.

Tidak ada tumpukan dokumen yang harus disiapkan. Tidak ada bukti transaksi yang diminta. Petugas hanya mencatat informasi berdasarkan jawaban responden.

Satu telepon pintar berada di tangan petugas. Dari layar kecil itulah angka-angka dikumpulkan.

Kelak, angka-angka tersebut akan digabungkan menjadi data yang lebih besar untuk membantu menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia

Dinamika Sensus Ekonomi 2026 juga terjadi di dunia maya.

Di media sosial, sempat ramai perbincangan mengenai daftar pertanyaan yang diajukan petugas sensus. Sebagian masyarakat mempertanyakan mengapa petugas menanyakan hal-hal yang dianggap cukup detail, mulai dari penghasilan, pengeluaran, hingga kepemilikan aset.

Theresia memahami kekhawatiran tersebut.

Menurut dia, masyarakat saat ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Sebuah informasi dapat menyebar luas hanya dalam hitungan menit.

Ia menyadari tidak mudah membuat seluruh masyarakat memiliki pemahaman yang sama.

Namun, Theresia berharap masyarakat mau memeriksa kembali informasi yang diterima sebelum mempercayainya.

Sebab, menurut dia, Sensus Ekonomi merupakan kegiatan pendataan, bukan hal lain seperti pemeriksaan pajak.

“BPS adalah tukang potret. Tukang potret itu artinya hanya memotret sesuai dengan kondisi yang ada. Ketika nanti data itu digunakan untuk kebijakan apa pun, intervensinya sudah di luar kewenangan kami,” ujar Theresia.

BPS, kata Theresia, hanya menyediakan data mengenai kondisi ekonomi. Data tersebut kemudian dapat digunakan pemerintah untuk merancang kebijakan.

BPS juga tidak meminta dokumen sebagai bukti atas setiap jawaban responden. Informasi mengenai aset, pendapatan, gaji, dan berbagai hal lainnya disampaikan berdasarkan pengakuan responden.

Ia menegaskan data individu, keluarga, maupun perusahaan tidak akan dipublikasikan secara pribadi.

“Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997, data pribadi individu, perusahaan, maupun keluarga tidak akan keluar. Data yang keluar hanya dalam bentuk agregat untuk kepentingan statistik, bukan perpajakan dan bukan penegakan hukum,” ujar Theresia.

***

Hari mulai beranjak sore ketika Siti keluar dari salah satu rumah warga. Senyum masih terlihat di wajahnya. Pendataan berjalan lancar. Tidak ada penolakan. Tidak ada keributan seperti yang mungkin tergambar dari berbagai perbincangan di media sosial.

Namun, pekerjaan Siti belum selesai. Arsiyanti yang bertugas mengawasi para petugas Sensus Ekonomi sudah menunggunya. Masih ada sejumlah rumah lain yang harus mereka datangi.

Di tangan Siti, sebuah telepon pintar menjadi alat untuk mengumpulkan jawaban dari warga. Di tangan petugas lain, perangkat yang sama melakukan hal serupa di toko, pasar, pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat usaha.

Tidak semua proses berlangsung dalam suasana serius. Ada tawa. Ada candaan. Ada warga yang menyelipkan cerita pribadi di tengah pertanyaan mengenai omzet dan modal usaha.

Namun, di balik percakapan sederhana itu, ada pekerjaan besar yang sedang dilakukan.

Sensus Ekonomi 2026 berusaha menangkap perubahan ekonomi Indonesia yang semakin kompleks. Ekonomi tidak lagi hanya berlangsung di toko, pasar, kantor, atau pabrik.

[Gambas:Photo Memories Millenaires]

Sebagian kini berlangsung melalui layar telepon pintar, dari rumah-rumah kecil, melalui percakapan di media sosial, atau melalui transaksi yang bahkan tidak terlihat secara fisik.

Oleh karena itu, setiap jawaban memiliki arti. Jawaban Ayu mengenai usaha kecilnya. Jawaban pemilik toko di pusat perbelanjaan. Semuanya menjadi bagian dari mozaik besar perekonomian Indonesia. Di situlah pentingnya Sensus Ekonomi 2026.

Sebelum kembali melanjutkan pendataan, Arsiyanti menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat.

“Jangan takut. Terima kami, tidak usah takut. Kami bukan orang pajak. Kami hanya ingin memperbarui data,” ujarnya.

[Gambas:Video Memories Millenaires]

Add

as a preferred

source on Google

Tantangan Petugas di Lapangan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Hasil F1 GP Belgia: Antonelli Finis Pertama, Verstappen Podium

Baca lagi: FOTO: Melihat Toko Pop Mart Spesial Bakery Pertama di Asia Tenggara

Baca lagi: Masjid di ‘Kampung Tenggelam’ Karian Muncul Lagi dalam Kondisi Utuh

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: