
Jakarta, Memories Millenaires Indonesia
—
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
(FKM UI) Ratu Ayu Dewi Sartika mengusulkan sirup sawit merah untuk menjadi pelengkap dalam program makan bergizi gratis (
MBG
) bagi
ibu hamil
dan ibu menyusui.
Penerima Grant Riset Sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut mengatakan sirup sawit merah sebagai pelengkap MBG bertujuan untuk memperkuat upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan. Menurutnya, intervensi gizi perlu dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk ketika janin masih berada dalam kandungan.
“Jadi sebenarnya sirup red palm oil (sawit merah) ini posisinya bagaimana sih? sebagai komplementer, tidak untuk menggantikan program pemerintah pastinya, tapi sejalan dengan program pemerintah saat ini,” kata Ratu dalam acara Media Briefing di Gedung BPDP, Jakarta Pusat, Rabu (15/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam paparannya, ia menerangkan latar belakang risetnya adalah masih tingginya prevalensi kekurangan vitamin A dan anemia pada ibu hamil yang berkontribusi terhadap tingginya risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor utama penyebab stunting.
Saat ini, pemerintah baru memberikan kapsul vitamin A dosis tinggi untuk balita dan ibu nifas, sedangkan untuk ibu hamil dan ibu menyusui usia 0-6 bulan belum ada pemberian suplemen vitamin A.
“Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas pun baru berkisar antara 50% hingga 70%, dari target 100%. Jadi, di sini terjadi celah (gap) yang bisa diisi oleh produk minyak kelapa sawit merah sebagai komplemen untuk membantu program pemerintah,” terangnya.
Berdasarkan hasil riset klinisnya, ibu hamil yang mengonsumsi sirup sawit merah dapat meningkatkan kadar retinol (vitamin A) dalam tubuhnya. Sementara ibu hamil yang tidak mengonsumsi cenderung memiliki risiko melahirkan BBLR 4,4 hingga 1,8 kali lebih tinggi.
“Langkah hilirisasi ini sejalan dengan program Asta Cita pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan lokal serta peningkatan nilai tambah industri sawit nasional berkelanjutan,” pungkas Ratu.
(fln/ins)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Era Internet 6G di Depan Mata, Bagaimana Kesiapan Indonesia?
Baca lagi: FOTO: Amukan Topan Bavi Bergerak Memasuki Daratan China
Baca lagi: Bima Arya Sebut Pentingnya Keberlanjutan dalam Kepemimpinan




3 Responses
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=293333 juga.
Sebuah karya tulisan yang memiliki karakter yang sangat kuat, berani menampilkan estetika kebahasaan y https://coursework.uma.ac.id/index.php/ekonomi/article/view/1248ang tinggi di tengah maraknya tulisan instan
Membaca artikel ini memicu proses retrospeksi mendalam dalam diri saya mengenai bagaimana saya memandang tanggung jawab moral di era digital https://www.dibiz.com/hardxcbdgummiesbuy