
Jakarta, Memories Millenaires Indonesia
—
Jika Amerika Serikat memiliki Alice Walton sebagai pewaris kerajaan ritel Walmart, Jerman punya
Beate Heister
yang menjadi pewaris jaringan supermarket diskon terbesar dunia asal
Jerman
, Aldi Süd.
Warisan bisnis raksasa ritel itu mengantarkan Beate masuk jajaran orang terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai puluhan miliar dolar AS.
Forbes
menaksir kekayaan Beate tembus US$17,2 miliar atau setara Rp309 triliun (asumsi kurs Rp17.993 per dolar AS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beate merupakan putri dari Karl Albrecht, pendiri Aldi. Maka, tak afdol rasanya mengulas sepak terjang Beate tanpa menyertakan perjalanan membangun bisnis sang ayah.
Aldi merupakan jaringan supermarket diskon asal Jerman yang didirikan kakak beradik Karl dan Theo Albrecht. Nama Aldi berasal dari singkatan
Albrecht-Diskont.
Pada 1946, dua bersaudara itu mengambil alih toko kelontong milik keluarga mereka setelah Perang Dunia II di Essen, Jerman.
Saat itu, Jerman masih terpuruk akibat resesi, sistem kupon, dan kelangkaan pangan pasca Perang Dunia II. Karena itu, model bisnis toko kelontong keluarga pun diubah menyesuaikan dengan kondisi ekonomi pascaperang yang penuh keterbatasan.
Aldi hanya menjual barang-barang yang tidak mudah rusak dan mengisi rak toko dengan produk yang paling laris. Sementara produk yang kurang diminati dihapus dari daftar penjualan. Strategi ini memungkinkan Aldi menawarkan harga yang lebih murah dibanding supermarket tradisional.
Formula Aldi tersebut langsung sukses. Dengan memangkas produk yang kurang laku, jumlah barang yang bisa dijual dengan harga diskon terus bertambah. Basis pelanggan supermarket diskon itu pun berkembang pesat.
Pada 1955, seiring dengan bangkitnya perekonomian Jerman dalam periode yang dikenal sebagai
German Economic Miracle,
kedua bersaudara itu telah memiliki sekitar 100 toko ritel di seluruh negeri.
Bisnis mereka berkembang pesat dengan konsep supermarket diskon yang menjual produk terbatas dengan harga murah.
Sayangnya, pada 1961 Aldi pecah menjadi dua perusahaan di puncak kejayaan. Gara-garanya, ada perbedaan pandangan bisnis antara Karl dan Theo.
Karl lantas mengelola gerai-gerai yang beroperasi di wilayah Jerman selatan di bawah bendera Aldi Süd. Nantinya, Aldi Süd berekspansi ke negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
Sementara, Theo mengelola Aldi Nord yang mencakup gerai-gerai di wilayah Jerman utara dan sebagian besar negara Eropa lainnya. Pada 1971, Theo juga mengakuisisi jaringan supermarket Amerika Serikat, Trader Joe’s.
Beate Heister lahir pada 5 Oktober 1951 di Essen, Jerman dengan nama Beate Albrecht. Saking tertutupnya keluarga Albrecht, sukar ditemukan informasi terkait keluarga ini, termasuk Beate. Semasa hidup, sang ayah, Karl Albrecht nyaris tidak pernah difoto.
Gaya menjauhi sorotan publik itu sepertinya menurun’ kepada Beate. Ia nyaris tidak pernah diwawancarai media. Tidak ada profil resmi Aldi yang memuat masa kecil, latar belakang pendidikan hingga perjalanan karirnya.
Sikap Beate yang menghindari sorotan publik kerap dibandingkan dengan ayahnya. Namun, dari berbagai laporan menyebut ia dikenal tegas dan tidak mudah berkompromi dalam urusan bisnis.
Beate dikenal mengutamakan efisiensi operasional, serta mempertahankan nilai-nilai kesederhanaan dan efektivitas biaya yang sejak lama menjadi kunci keberhasilan Aldi.
Pada 2014, Beate bersama saudaranya, Karl Albrecht Jr., mewarisi kepemilikan Aldi Süd melalui struktur yayasan keluarga usai sang ayah wafat.
Di perusahaan, ia memainkan peran penting dalam mempertahankan sekaligus memperluas kehadiran global Aldi Süd.
Beate mengawasi operasional perusahaan di berbagai negara serta menjaga reputasi Aldi sebagai jaringan supermarket yang menawarkan produk berkualitas dengan harga murah.
Kunci sukses Aldi adalah terus berkembang mengikuti perubahan selera konsumen. Di era pandemi COVID-19, saat sebagian besar bisis terpukul, usaha Aldi tetap moncer.
Saat pandemi, masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang karena ketidakpastian situasi global. Ternyata, model bisnis Aldi yang mengedepankan harga murah justru semakin diuntungkan. Supermarket diskon ini jadi pilihan utama buat orang berbelanja.
Uniknya, logo hingga slogan Aldi kurang tersohor, terutama di kalangan pembeli di luar Jerman. Sebab, Aldi juga hampir tidak mengelokasikan dana untuk iklan. Raksasa supermarket diskon ini memilih membiarkan harga murah menjadi daya tarik utama.
Di bawah kendali keluarga Albrecht, Aldi Süd kini mengoperasikan lebih dari 6.500 gerai di 11 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Australia, Italia, Swiss, dan Austria. Di Amerika Serikat, Aldi Süd memiliki lebih dari 2.000 gerai yang tersebar di 36 negara bagian.
Lantaran sikap tertutup itu, kehidupan Beate Heister nyaris menjadi misteri. Ia diketahui menikah dengan pengusaha Peter Heister, mantan petinggi Aldi Süd. Keduanya dikaruniai enam anak dan menjalani kehidupan yang sangat tertutup dan tinggal di Neuss, Jerman.
Kini, ia duduk di dewan penasihat Aldi Süd, bersama suaminya dan juga putranya, Peter Max Heister. Beate
masih ikut berperan dalam pengambilan keputusan strategis untuk operasional Aldi Süd di Jerman bagian selatan, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya.
Sementara putranya yang lain, Christian Heister, menjabat sebagai anggota dewan direksi. Penempatan anak-anak nampaknya menandakan keterlibatan keluarga yang terus berlanjut dalam bisnis Aldi Süd sebagai bisnis keluarga.
Di luar aktivitas korporasi, Beate juga aktif dalam kegiatan filantropi. Ia menjadi anggota dewan Siepmann Foundation, yayasan yang terinpirasi dari nama nenek dari pihak ayahnya. Beate juga aktif mendukung berbagai kegiatan sosial.
[Gambas:Video Memories Millenaires]
(pta)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: KLH Selidiki Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Usai Proses Pemadaman
Baca lagi: BBM Campur Etanol 20% Diduga Rusak Mobil, Warga India Siap Demo
Baca lagi: Pemotor Angkuh Ngaku Tentara Ngotot saat Ditegur Invasi Trotoar Depok



10 Responses
Artikel yang sangat informatif dan disusun dengan rapi. Sebagai tambahan wawasan, teman-teman juga bisa mengecek situs https://librivox.org/2007/04/13/librivox-in-nyc-art-gallery/ karena materi di sana cukup relevan.
Sangat visioner! Artikel ini memprediksi masa depan dengan landasan berpikir yang sangat matang http://www.kufirst.center.ku.ac.th/the-key-points-from-development-to-commercially-available-product-pic/
Penulis menyajikan argumen secara ksatria, didukung penuh oleh pembuktian yang tidak terbantahkan https://www.kufirst.center.ku.ac.th/foodmicrobiologycontest4/
Penulis sukses memadukan unsur edukasi dengan pendekatan storytelling yang sangat memikat sanubari https://www.kufirst.center.ku.ac.th/rdikureward60/ luarbiasa cemerlang artikel ini
Saya sangat menikmati tulisan ini karena langsung pada intinya. Tadi saya juga sempat membaca referensi lain di https://skitterphoto.com/photographers/141174/epicureannycom yang membahas hal serupa secara komprehensif.
Pembahasan yang mencerahkan! Untuk pembaca lain yang mungkin membutuhkan literatur tambahan dengan tema yang sama, silakan kunjungi https://pxhere.com/ko/photographer/4505044.
Setuju banget sama poin-poin di artikel ini, saya jadi makin ngerti sekarang. Oh iya, buat temen-temen yang butuh bacaan sejenis, http://c0428936.myzen.co.uk/2018/05/29/hello-world/ juga bahas hal yang sama lho.
Sebuah sumbangan pemikiran yang sangat berbobot dan layak dijadikan rujukan utama dalam diskusi formal https://www.lib.cet.ac.il/PAGES/subx.asp?item=5546&type=site&rel=1
Setuju sama opini penulisnya, apalagi di bagian kesimpulan. Saya sempet baca referensi pendukungnya juga kemaren di http://chezp2s.free.fr/index.php?post/2009/01/Partager-des-fichiers-rapidement-et-facilement-sur-le-web nyambung banget.
Informatif parah! Akhirnya paham juga sama materi ini. Sekadar nambahin aja, di https://aroundsuannan.ssru.ac.th/index.php?action=profile;u=3149565;area=showposts juga ada ulasan yang gak kalah seru soal isu ini.